
Kalaupun sebulan terakhir saya
tampak rajin menulis, itu akibat sebuah taruhan dengan rekan-rekan kerja di
Remotivi. Jika tidak ingin seratus ribu rupiah melayang, maka setiap dari kami
harus menulis dua minggu sekali. Tulisan ini pun lahir dari “akad” itu. Sial memang,
rasanya seperti dipaksa terus makan meski sudah kenyang.
Anda tentu bisa bayangkan situasi
saya sekarang. Setiap dua minggu harus mengarang. Bagi saya menulis tak pernah
mudah, meski itu dilabeli embel-embel “tulisan santai” atau “tulisan sederhana”.
Tulisan, sesederhana apapun itu teteplah kerja pemikiran untuk mempertautkan
kata dengan logika. Itulah mengapa saya tunggang langgang menghadapi tantangan
menulis dua minggu sekali. Saya menyadari bukanlah penulis yang bisa menulis
cepat. Saya bukan pula penulis yang punya banyak teknik dan ide kreatif, hingga
bisa menulis mulai dari soal toilet hingga politik luar negeri . Lalu, dari
mana saya punya cukup modal untuk konsisten menulis setiap dua minggu sekali?
Dihadapkan pada situasi semacam ini, membuat saya kagum pada mereka yang punya nafas panjang menghidupkan tradisi menulis, Seperti tergambar pada sosok Goenawan Muhamad. Separuh usia hidupnya dipakai menulis catatan pinggir setiap minggu di Majalah Tempo. Itu pun belum termasuk tulisan lain di media massa. Saya bahkan tak yakin punya cukup umur untuk membaca semua tulisan Goenawan Muhamad.
Goenawan mungkin bukan sosok yang tepat untuk membandingkan produktivitas menulis. Upaya melakukannya harus dicurigai sebagai modus cepat puas diri. Dengan begitu, saya bisa bilang “ Jika Goenawan Muhamad menulis seminggu sekali, maka bagi amatiran seperti saya, menulis dua bulan sekali saja sudah alhamdulilah”.
Dihadapkan pada situasi semacam ini, membuat saya kagum pada mereka yang punya nafas panjang menghidupkan tradisi menulis, Seperti tergambar pada sosok Goenawan Muhamad. Separuh usia hidupnya dipakai menulis catatan pinggir setiap minggu di Majalah Tempo. Itu pun belum termasuk tulisan lain di media massa. Saya bahkan tak yakin punya cukup umur untuk membaca semua tulisan Goenawan Muhamad.
Goenawan mungkin bukan sosok yang tepat untuk membandingkan produktivitas menulis. Upaya melakukannya harus dicurigai sebagai modus cepat puas diri. Dengan begitu, saya bisa bilang “ Jika Goenawan Muhamad menulis seminggu sekali, maka bagi amatiran seperti saya, menulis dua bulan sekali saja sudah alhamdulilah”.
Ya, saya pun tahu ini alasan dan
saya masih bisa tambahkan sederet alasan kenapa projek ini tidak mungkin. Antara
lain yang cukup muktahir adalah beban rutinitas dari tiga pekerjaan yang kini
saya jalani. Sulit mencari waktu luang untuk membaca dan menulis. Dibalik
semua alasan, saya sendiri tau yang nyata hanyalah kemalasan yang bersumber
dari rasa takut gagal.
Pram pernah bilang, menulis tak
ubahnya melahirkan. Menulis dan menerbitkan tulisan, bagi saya ketegangannya mungkin
sama dengan ibu ‘urban mama’ melahirkan anak pertama. Ada ketakutan anaknya
tidak terlahir sempurna. Jejak kecemasan semacam ini, bisa anda temukan pada
kumpulan file tulisan hasil ‘aborsi’ di laptop saya. Puluhan judul dan ide tulisan
yang keburu mati dirahim, sebelum sempat dilahirkan. Mungkin saya terlalu serius
dengan menulis, melekatkan tulisan dengan kelahiran bisa jadi masalahnya.
Saya terlalu
mempersonalisasi sebuah karya tulis dan memandangnya sebagai sebuah peristiwa
besar (kelahiran). Mungkin sebaiknya menulis saya asosiasikan dengan makan,
siapa tak butuh makan? Mengubah pola pikir mengenai menulis tidaklah mudah, apalagi
bagi saya yang terlanjur percaya menulis itu kerja ‘keabadian’(ungkapan
Pram). Yang pasti, saya harus menemukan cara keluar dari tantangan ini dan
melampaui diri sendiri. Termasuk bereskperimen dengan gaya menulis berbeda (lebih
singkat, sederhana, dan bergaya curhat), dan terutama menulis dengan ikhlas. Ikhtiar
itu pertama-tama saya lakukan dengan tulisan ini. Terimalah anak pertama saya,
maaf jika tak sempurna.
hahahahaaa.. selamat berjuang menjadi blogger dwimingguan, para aktivis media :D
ReplyDeleteHarrah's Reno Casino & Hotel, Reno, NV - Mapyro
ReplyDeleteFind 의정부 출장안마 the cheapest 김천 출장안마 and quickest ways 전라남도 출장안마 to get from 평택 출장샵 Harrah's 서산 출장마사지 Reno Casino & Hotel, Reno to Harrah's Reno Casino & Hotel, Reno to Harrah's Reno Casino & Hotel, Reno