Showing posts with label Puisi Pilihan. Show all posts
Showing posts with label Puisi Pilihan. Show all posts

Wednesday, January 9, 2013

DURRAHMAN - Joko Pinurbo

Menggunakan kemeja dan celana pendek putih,
Durrahman berdiri sendirian di beranda istana,
Dua ekor burung gereja hinggap di atas bahunya,
Bercericit dan menari riang.
Senja melangkah tegap, memberinya salam hormat,
Kemudian berderap ke dalam matanya yang hangat dan terang.

Di depan mikrofon Durrahman mengucapkan pidato singkatnya:

Sunday, August 14, 2011

NYANYIAN ANGSA - W.S. Rendra



Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya
“Sudah dua minggu kamu berbaring,
sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang
malahan padaku kamu berhutang.
Ini biaya melulu. Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu mesti pergi.”

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku
maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku
pelacur yang sengsara
kurang cantik dan agak tua)

Tuesday, July 19, 2011

Secangkir Kopi Hangat Pagi – M. Fadjroel Rachman

 


Dingin mencengkram erat-erat tangkai cangkir kopi hangat pagi, bibir biru menggigil
“aku ingin berenang dalam hangat kopi hitam kental ini, sebelum sirna di musim semi”.
Pohon tua di depan hotel dililit selimut hitam abad-abad lelah, menakik luka sunyi dosa
gigi dingin keras gemelutuk, mengguncang meja makan putih berlemak teramat rapi ini

Salmon panggang, irisan kalkun, acar buah, madu likat, berteriak dalam tumpukan lapar
“inikah perjamuan terakhir menjelang ajal menjemput di kerisauan golgota?” isak yudas
tak perlu menyesal ditimbun dosa. “Jiwaku meminta pulang ke langit sepi”, bisik kristus
tadi pagi hitler menyelinap ke cangkir kopi,  menukar gula dengan darah sepasang gipsi

Thursday, July 7, 2011

Sajak Pertemuan Mahasiswa - WS. Rendra

Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan

lalu kini ia dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan

kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : "kami ada maksud baik"
dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa ?"

Sunday, June 12, 2011

Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta – WS Rendra

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu

Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban

Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan

Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan

Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.