Showing posts with label Inspirasi Sastra. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi Sastra. Show all posts

Sunday, December 25, 2011

Chairil Anwar : Yang Bukan Penyair Tidak Ambil Bagian

“yang bukan penyair, tidak ambil bagian” demikian ungkap Chairil Anwar dalam salah satu wawancaranya dengan radio Belanda. Kalimat Chairil tersebut mengantarkan pada pemahaman mengenai bagaimana seni  di maknai di tanah air. Nada protes terhadap kalimat tersebut tumbuh subur di penghujung tahun 1971, yang di tandai oleh munculnya perkemahan kaum urakan yang dikomandani Rendra dan gerakan puisi emBeling yang di komandani Zeihan dan Remy Silado .

Dalam kalimatnya Chairil dengan tegas membagi antara yang penyair dan bukan penyair. Bagi Chairil, hanya penyairlah yang punya hak membuat syair. Sehingga jelas penyair memiliki posisi yang luhur, karena hanya penyair yang boleh merenung (ambil bagian) dan melahirkan puisi atau sajak. Dengannya puisi ataupun sajak  menjadi sesuatu yang luhur pula, sebab ia buah karya seorang penyair. Pernyataan inilah yang di tolak Zeihan dengan gerakan puisi emBeling. Dalam percakapannya dengan Farid Sony Maulana, Zeihan mengatakan, “Dengan tegas saya katakan, yang bukan penyair boleh ikut ambil bagian. Ini artinya setiap orang boleh menulis puisi, boleh main-main dengan puisi. Gembira ria dengan puisi”(Mata emBeling, 2000: 14).

Monday, October 17, 2011

Membaca “Wajah Terakhir”



Lama sudah, kurang lebih satu bulan, kumpulan cerpen bertajuk “wajah terakhir” bertengger dalam rak buku saya. Butuh waktu yang relatif lama bagi saya untuk menyelesaikannnya. Dibanding kumpulan cerpen lain ataupun novel yang pernah saya baca, “wajah Terakhir” karya Mona Sylviana , termasuk yang membutuhkan waktu paling lama dan menguras energi. Meski tidak lebih dari 129 halaman, Wajah terakhir menghabiskan lebih banyak waktu dari pada membaca novel Imperium karya Robert Harris, yang jumlah halamannya mencapai  413.
Banyak hal yang menyengat dan mengejutkan dalam narasinya, sehingga butuh kemauan dan energi lebih untuk mencernanya. Narasi Mona, jelas jauh dari harapakan mereka yang ingin melihat sastra sebagai dunia yang indah dan penuh kelembutan. Akan tetapi, bagi saya justru itulah kekuatannya.

Wajah terakhir, menghadirkan pada kita wajah lain dari perempuan. Mungkin wajah paling terakhir yang ingin kita lihat melekat pada perempuan. Seperti wajah yang “cacat”, bagai “borok” yang ingin kita cungkil, agar tidak menodai bagian tubuh yang mulus. Dalam wajah terakhir, Mona menulis perempuan dengan jujur. Ia tidak hanya menulis paras cantik perempuan namun terutama  wajah ketertindasannya di alam patrialki. Karena itu, saya pikir Mona mengembangkan teknik dan pilihan narasi yang mampu membangunkan bulu kuduk, seperti kisah perempuan dalam “Mata Marza”:

Friday, July 8, 2011

Dengarlah Nyanyian Ku


Membaca novel Haruki Murakami seolah sedang membaca pergulatan antara moderitas dan tradisionalisme yang terjadi di Jepang tahun 1970-an. Kemajuan teknologi dan peningkatan kemampuan ekonomi melahirkan kelas menengah, yang sebagian besar diantaranya adalah remaja. Konsekuensi dari modernitas yang kian meluas, memaksa anak-anak muda Jepang untuk menalar kembali pandangan-pandangan tradisional mengenai seni, budaya, dan sastra yang telah mapan. Gambaran dari kondisi ini ditampilkan dengan cerdas oleh haruki Muram dalam “Dengarlah nyanyian angin”. 

Bila mendambakan seni atau sastra, sebaiknya kau baca saja karya-karya orang yunani. Sebab sistem perbudakan sangat diperlukan untuk menciptakan seni murni. Begitulah yang terjadi di zaman yunani kuno, budak-budak membajak ladang, mengolah makanan, mendayung perahu, sementara saat itu penduduk kota tenggelam dalam pembuatan sajak di bawah sinar mentari Laut Tengah dan mengutak-atik matematika. Itulah yang disebut sebagai
seni(Murami, 2008: 7). 

Dilucutinya pandangan yang mapan mengenai seni dan budaya, membawa anak muda Jepang, mencari role model baru yang lebih bisa mengakomodir jiwa baru post moderisme yang sedang mereka alami. Bagi sang tokoh Aku dalam nyanyian angin, inspirasi itu datang dari seorang novelis bernama Derek Heartfield. Obsesi pada sang novelis membawa tokoh Aku melahirkan novel. Namun bukan dari sudut perenung yang kontemplatif melainkan pada pergulatan hidup keseharian. Dan bila anda bertanya dari mana Aku, yang dalam tafsir saya juga Haruki Murami, memulai novelnya, inilah jawabnya:

Satu jam penuh aku mencari-cari makan Hertfield. Akhirnya kutemukan. Setelah meletakkan bunga mawar liar penuh debu yang kupetik di padang sekitar situ, aku menungkupkan kedua tanganku kearah makam, lalu duduk menghisap rokok. Dibawah sinar matahari yang lembut di bulan mei, hidup dan mati terasa bagaikan sama tenangnya. Aku berbaring mengadah ke atas, mengatupkan mata, dan selama beberapa jam aku terus mendengarkan nyanyian burung gereja. Novel ini dimulai dari tempat seperti itu. Aku tidak tahu akan berakhir dimana (Murami, 2008: 146).  

Wednesday, June 22, 2011

Dunia Ku


Novel Jorstein Gardner, mengetengakan persoalan Filsafat yang abstrak dengan cara yang hidup. Melalui tutur narasinya, kita diajak memasuki “dunia sophie”, yang penuh pertanyaan spekulatif mengenai kebenaran. Satu diantara narasinya yang mengejutkan adalah, uraian mengenai eksistensi manusia dan “kemenjadian” dunia, seperti dibawah ini:

“Hanya dengan membangkitkan perasaan mendalam bahwa suatu hari orang pasti mati maka dia dapat menghargai betapa senangnya dia bisa hidup…dari mana datangnya dunia?...pada suatu titik sesuatu pasti muncul dari ketiadaan.Tapi apakah itu mungkin?tidakkah itu sama mustahilnya dengan gagasan bahwa dunia itu selalu ada?” (Gardner, 2008: 317).

Dikutip dari Novel Filsafat karya Jorstein Gardner, yang berjudul ”Dunia Sophie”

Friday, June 17, 2011

Praxis Filsafat Cicero



Satu dari sekian banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah mengenai salah seorang konsul imperium Roma, Cicero adalah jawaban dari mengapa Filsafat harus mendunia dan sekaligus menunjukkan politik bukan usaha tanpa cita-cita(filsafat). setidaknya mungkin itu yang bisa ku tangkap dari bait-bait narasi dibawah ini.


"Aku menyangka Lucius malang akan muntah. Dia benar-benar telah menempuh perjalanan jauh dari buku-buku filsafatnya di Roma yang cerah, dan kini mendapati dirinya sedang membaca daftar kematian dengan cahaya lilin remang-remang, 25 meter di bawah tanah yang menetes-netes. Kami menyelesaikan tugas secepatnya, dan tak pernah aku merasa selega itu keluar dari manapun seperti saat aku keluar dari terowongan tambang batu dan kembali bergabung dengan umat manusia di permukaan……

“Berjanjilah padaku”, kata Lucius, setelah beberapa lama, “jika suatu saat nanti kau meraih imperium yang begitu kau dambakan, kau tidak akan memimpin dengan kekejaman dan ketidakadilan seperti ini”

“aku bersumpah” sahut Cicero, “dan jika suatu saat nanti, Lucius terkasih, kau mempertanyakan mengapa orang-orang baik meninggalkan filsafat untuk mencari kekuasaan di dunia nyata, berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu mengingat apa yang telah kau saksikan di Tamban Batu di Siracusa.”

Dikutip dari Novel karya Robert Harris,berjudul IMPERIUM, hal: 152

Friday, October 30, 2009

GILA

Tahukah kamu apa arti menjadi Gila? Gila itu seperti kisah di bawah ini:

“seorang tukang sihir yang sangat ampuh, yang ingin menghancurkan seluruh kerajaan, memasukkan ramuan ajaib kesumur tempat semua orang minum. Siapapun yang meminum air itu akan menjadi gila. Keesokan harinya, semua orang minum dari sumur itu dan menjadi gila, kecuali raja dan keluarganya, yang minum dari sumur lain. Raja sangat cemas dan berusaha mengendalikan masyarakat dengan mengeluarakan aturan yang menyangkut keamanan dan kesehatan umum. Namun polisi dan kepala polisi telah minum dari air beracun itu, sehingga mereka berpikir aturan yang dibuat oleh raja itu aneh dan merekapun mengabaikannya.
Ketika mendengar tentang aturan tersebut, rakyat kerajaan itu merasa yakin raja sudah gila. Sehingga memberi perintah yang tak masuk akal. Mereka mendatangi istana dan meminta raja turun takhta. Merasa putus asa, raja pun siap turun takhta, namun ratu mencegahnya dan berkata: ‘ ayo kita minum dari sumur umum. Dengan demikian kita akan berlaku sama seperti mereka’. Mereka pun melakukannya, raja dan ratu minum air gila, dan seketika merekapun melantur. Rakyat berubah pikiran, sekarang raja menjadi bijak, mengapa ia tidak dibiarkan saja memimpin?
Negeri itu pun hidup dengan damai, meskipun rakyatnya berlaku berbeda dengan rakyat negeri tetangga. Dan raja memimpin sampai akhir hayatnya”.

(Paulo Coelho, Veronika Memutuskan Mati)