“yang bukan penyair, tidak ambil bagian” demikian ungkap Chairil Anwar dalam salah satu wawancaranya dengan radio Belanda. Kalimat Chairil tersebut mengantarkan pada pemahaman mengenai bagaimana seni di maknai di tanah air. Nada protes terhadap kalimat tersebut tumbuh subur di penghujung tahun 1971, yang di tandai oleh munculnya perkemahan kaum urakan yang dikomandani Rendra dan gerakan puisi emBeling yang di komandani Zeihan dan Remy Silado . Dalam kalimatnya Chairil dengan tegas membagi antara yang penyair dan bukan penyair. Bagi Chairil, hanya penyairlah yang punya hak membuat syair. Sehingga jelas penyair memiliki posisi yang luhur, karena hanya penyair yang boleh merenung (ambil bagian) dan melahirkan puisi atau sajak. Dengannya puisi ataupun sajak menjadi sesuatu yang luhur pula, sebab ia buah karya seorang penyair. Pernyataan inilah yang di tolak Zeihan dengan gerakan puisi emBeling. Dalam percakapannya dengan Farid Sony Maulana, Zeihan mengatakan, “Dengan tegas saya katakan, yang bukan penyair boleh ikut ambil bagian. Ini artinya setiap orang boleh menulis puisi, boleh main-main dengan puisi. Gembira ria dengan puisi”(Mata emBeling, 2000: 14).



